Menata Batin Ketika Musibah Dan Kekecewaan Datang

Dalam skala kecil, saat di tinggal orang yang disayangi merupakan salah satu bentuk musibah berat dengan menimbulkan rasa kecewa bahkan timbul rasa menyalahkan diri sendiri. Kondisi seperti ini memerlukan dukungan batin dan pencermatan dalam menyikapinya, karena setiap orang mempunyai kondisi batin yang berbeda-beda. Kondisi batin seperti ini pasti sangat menyakitkan dan membuat orang menjadi putus asa serta kehilangan optimisme dan harapan hidup. Bahkan kondisi seperti ini seringkali membuat seseorang berfikir atau melakukan solusi jalan pintas misalnya dengan nekat bunuh diri, menjauh dari keramaian, dan hanyut di dalam kesengsaraan, atau menceburkan diri di dalam kehidupan gelap seperti mengkonsumsi obat penenang destruktif seperti narkoba dan sejenisnya.
Bagi orang yang beragama, terutama agama islam memberikan cara terbaik yang harus dilakukan ialah kembali kepada Allah “ Innalillahi wa inna illaihi raaji’un “ ( Sesungguhnya segala sesuatu itu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah ). Dari sini kita bisa mulai menata batin dan harus yakin bahwa sebesar apapun sebuah musibah yang di berikan kepada hambanya pasti itu masih tetap di ambang batas kemampuan dan daya dukung hamba-Nya, Allah Swt Maha Pengasih dan Penyayang, tidak mungkin membebani sesuatu di luar batas kemampuan dan daya dukung hamba-Nya. ”Allah tidak akan membebani hamba-Nya melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Q.S. al-Baqarah/2:286).
Dalam perspektif tasawuf, musibah dan kekecewaan hidup merupakan salah satu bentuk wujud dari ”surat cinta” Allah kepada hamba-Nya. Dengan menggunakan positif tinking disini bisa berfikir bahwa mungkin Allah tengah merindukan hamba-Nya, akan tetapi hamba-Nya yang bersangkutan tengah terkeco atau tersesat dengan kesenangan duniawiannya. Akhirnya Allah Swt memberikan satu bentuk musibah dan rasa kecewa terhadap hamba-Nya, dengan harapan hamba-Nya kembali yang tengah terkeco dan tersesat kembali mengingat kepada-Nya.
Pemikiran tasawuf memberikan gambaran bahwa seseorang yang selama ini hidup di dalam kemewahanan ataupun dalam kondisi berkecukupan seringkali lebih sulit untuk melakukan pendakian (taraqqi) kepada Tuhannya, karena selama ini segala sesuatu dan semua kebutuhannya merasa terpenuhi tanpa merasa kekurangan sama sekali. Dalam kondisi seperti ini banyak orang yang lalai untuk mengingat Allah (berdzikir) dan berdoa. Ibadah yang dilakukan selama ini pun dilakukan hanya sebatas melaksanakan kewajiban, bukan dilakukan dengan betul-betul karena mencintai Allah, sehingga tingkat kekhusyukan dalam beribadah dengan sendirinya akan lemah. Kiat dalam menyikapi musibah yang di berikan kepada kita, kita harus bertawakkal kepada Allah, dengan menyerahkan diri secara total dan sepenuhnya kepada Allah Swt. Kita harus bisa mengambil hikmah dan berkeyakinan bahwa musibah dan kekecewaan ini merupakan salah satu pilihan terbaik Allah bagi kita.
Allah Swt Maha Pengasih dan Penyayang yang selalu mencintai hamba-Nya dan selalu ingin menyelamatkan hamba-Nya dari siksaan yang lebih pedih dan lebih lama. Nabi Muhammad Saw bersabda: ” Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, kedukaan, penyakit, kesulitan hidup, kesengsaraan, hingga semisal duri yang menusuk kakinya, melainkan itu semua berfungsi sebagai pencuci dosa masa lampau” ( Hadis Muttafaq’alaih / sangat shahih). Dalam hadist lain Rasulullah Saw juga bersabda: ” Jika Allah Swt menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya maka Ia menyegerakan siksaan-Nya (di dunia) dan jika Allah Swt menghendaki sebaliknya kepada hamba-Nya maka Ia menunda siksaan-Nya di hari kiamat” (Hadis dari Anas, riwayat Turmudzi).Musibah dan kekecewaan tidaklah harus terus diratapi dengan kesedihan yang terlalu lama, sebaliknya kita perlu dengan cepat mengambil hikmah yang amat penting terkandung didalam peristiwa itu. Kadang kita harus sering bersyukur bahwa musibah memang sedikit banyak membawa kesedihan dan kekecewaan dalam hidup, akan tetapi jika kita pelajari pada saat yang bersamaan kita akan bisa merasakan adanya kedekatan khusus antara diri kita dengan Allah. Kedekatan yang seperti itulah yang tidak pernah kita rasakan sebelumnya. Sehingga seringkali justru rasa kedekatan seperti itu lebih menonjol ketimbang rasa kekecewaan yang di timbulkan. Inilah artinya bahwa musibah membawa nikmat dan betul-betul musibah terasa sebagai ”surat cinta” Allah kepada kekasih-Nya.Dengan menyadari bahwa di balik musibah terdapat banyak hikmah didalamnya maka, bagaimana cara menyikapi musibah yang menimpa kita??? Sikap yang kita lakukan dalam menghadapi Musibah yang menimpa kita adalah dengan Tawakkaltu ‘alallah dan mengikhlaskan segala musibah yang telah menimpa diri kita kepada-Nya. Kita sadari atau tidak segala sesuatu yang terjadi di dunia ini memang sudah menjadi sunatullah (suratan takdir) dan telah tercatat di dalam buku blue print (lauhful mahfudz). Marilah kita jalani kehidupan ini dengan tawakkal dan ikhlas yang insya Allah akan memberikan kekuatan dan keajaiban tersendiri dalam diri kita. Jaminan ini telah di berikan oleh Allah ”Jangan berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita” (Q.S. al- Taubah/9:40).
Cara menjalani sikap tawakal yang sering di ajarkan ialah dengan cara menghayati dan mendalami dua bentuk kalimat syahadat. ”Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rusul Allah”. Dengan dua kalimat syahadat tersebut kita bisa berusaha menafikan segala sesuatu yang ada di dunia ini, bahkan kalau perlu kita menafikan keberadaan wujud kita sendiri. Seolah-olah apa yang ada didunia dan eksis di dalamnya hanyalah Allah Swt. Kita berusaha melenyapkan hakekat dan substansi diri kita lalu larut kepada suatu Wujud Yang Maha Abadi. Kehidupan kita ini hanyalah bagaikan sebuah benda yang hanyut dalam aliran sungai, ke mana pun aliran sungai itu akan bermuara maka, di situlah keberadaan kita akan dibawa. Apapun yang terjadi dan apapun yang akan kita alami harus kita terima apa adanya, karena kita tahu bahwa semua orang membawa takdir bagi dirinya sendiri. Hal seperti ini lebih mudah utnuk muncul dan kita selami ketika kita sedang sujud di atas hamparan sajadah di hadapan kebesaran Allah Swt. Kita lupakan musibah dan kekecewaan yang tengah menimpa kita, kita hilangkan segalanya, kalau perlu kita lupakan keberadaan diri kita sendiri, seolah-olah apa yang ada hanyalah Dia Sendiri Allah Azzawajallah. Sehingga kita sadari bahwa tidak ada lagi sosok yang ditimpa musibah, tidak ada sosok insan yang akan mendatangkan musibah, tidak ada lagi bentuk dendam dan tidak ada lagi yang akan disakit. Semuanya akan kembali dan akan menyatu dengan dzat-Nya.
Sedangkan keiklasan merupakan sikap yang sesungguhnya memberikan motivasi dan memberikan rasa optimisme ke dalam diri setiap insan. Seorang insane yang mampu menjalani keikhlasan secara penuh tidak akan pernah merasa susah, sedih, sakit, lelah, menyesal dan kecewa, karena dia akan merasa bahwa semua yang dilakukan semata-mata hanya karena kehendak dari Allah Swt. Segala sesuatu bentuk tingkah laku kita, ibadah kita apabila tidak dilakukan bukan semata-mata karena Allah SWT itulah yang sering menyedot energi batin kita, yang mengakibatkan kita sering merasa susah, sedih, lelah, menyesal da kecewa. Bahkan akan menimbulkan rasa sakit karena harapan kita berbeda dengan respons yang diberikan orang lain terhadap diri kita. Akan tetapi jika semunya kita niatkan seikhlasnya dan kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT maka hidup ini pasti tenang, tidak akan merasa kecewa, tidak akan bersedih, tidak pernah merasa jatuh, dan mungkin tidak akan pernah lagi kita merasa sakit.
{Artikel ini semoga bermanfaat bagi kita semua, karena artikel ini saya tulis dari berbagai referensi yang tujuannya untuk menenangkan hati yang tengah terkena musibah. Dengan menulis artikel ini saya ada sedikit ketenangan batin bagi saya yang baru saja di tinggal orang yang paling saya sayangi, saya hormati karena kasih sayangnya yang tak pernah padam sampai akhir hayatnya pada tanggal 26 Juli 2009 ( Ibunda Tercinta Ibu Sulami ). Semoga amal ibadah beliau di terima di sisi Allah Swt. Amien… ya Rabbal ‘alamien}

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: